Contoh Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang dan Tahapan Lengkapnya

Contoh Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang dan Tahapan Lengkapnya

Smallest Font
Largest Font

Memahami contoh siklus akuntansi perusahaan dagang merupakan langkah krusial bagi pemilik bisnis maupun praktisi akuntansi untuk menjaga kesehatan finansial entitas. Berbeda dengan perusahaan jasa yang fokus pada layanan, perusahaan dagang memiliki karakteristik unik karena adanya aktivitas pembelian barang, penyimpanan persediaan, dan penjualan kembali tanpa mengubah bentuk produk. Kompleksitas ini menuntut ketelitian dalam setiap tahap pencatatan agar laporan akhir mencerminkan kondisi riil perusahaan.

Siklus akuntansi ini bertindak sebagai kerangka kerja sistematis yang mendokumentasikan setiap transaksi ekonomi sejak terjadi hingga menjadi informasi yang siap digunakan oleh pemangku kepentingan. Dalam operasional sehari-hari, perusahaan dagang sering kali berurusan dengan retur penjualan, potongan harga, serta beban angkut, yang semuanya memerlukan perlakuan akuntansi khusus. Artikel ini akan membedah secara rinci setiap tahapan dalam siklus tersebut agar Anda dapat mengimplementasikannya secara akurat dalam sistem pembukuan manual maupun digital.

Diagram alur contoh siklus akuntansi perusahaan dagang
Visualisasi tahapan demi tahapan dalam siklus akuntansi yang dimulai dari bukti transaksi.

Tahap Awal: Identifikasi dan Pencatatan Transaksi

Langkah pertama dalam contoh siklus akuntansi perusahaan dagang adalah pengumpulan dan analisis bukti transaksi. Setiap kegiatan yang memiliki nilai moneter harus didukung oleh dokumen sah seperti faktur, kuitansi, nota kontan, atau memo debit/kredit. Tanpa bukti yang valid, sebuah transaksi dianggap tidak ada dalam standar akuntansi yang berlaku (SAK).

Setelah bukti terkumpul, akuntan akan melakukan penjurnalan. Pada perusahaan dagang, penggunaan jurnal umum saja tidak efisien karena volume transaksi yang tinggi. Oleh karena itu, diperkenalkanlah sistem jurnal khusus. Jurnal ini dirancang untuk mencatat transaksi sejenis secara kolektif, yang terdiri dari empat jenis utama:

  • Jurnal Pembelian: Digunakan khusus untuk mencatat semua transaksi pembelian barang dagangan secara kredit.
  • Jurnal Penjualan: Digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan yang dilakukan secara kredit kepada pelanggan.
  • Jurnal Penerimaan Kas: Mencatat seluruh aliran uang masuk, baik dari penjualan tunai, pelunasan piutang, maupun investasi pemilik.
  • Jurnal Pengeluaran Kas: Mendokumentasikan semua aliran uang keluar untuk pembelian tunai, pembayaran utang, hingga biaya operasional.

Untuk transaksi yang tidak masuk dalam kategori di atas, seperti retur penjualan atau retur pembelian, perusahaan tetap menggunakan jurnal umum. Penggunaan jurnal khusus ini sangat membantu dalam mempercepat proses posting ke buku besar nantinya.

Manajemen Persediaan: Metode Perpetual vs Periodik

Salah satu pembeda utama dalam contoh siklus akuntansi perusahaan dagang adalah pengelolaan persediaan. Perusahaan harus memilih metode yang paling sesuai dengan karakteristik barang mereka. Pemilihan metode ini akan sangat mempengaruhi perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) di akhir periode.

Fitur PerbandinganMetode Periodik (Fisik)Metode Perpetual
Pencatatan PersediaanDicatat hanya pada akhir periode melalui stok opname.Dicatat setiap kali ada transaksi masuk dan keluar.
Harga Pokok Penjualan (HPP)Dihitung di akhir periode dengan rumus tertentu.Dihitung secara otomatis saat transaksi penjualan.
Biaya ImplementasiCenderung lebih murah dan sederhana.Membutuhkan sistem software atau kartu stok detail.
Keakuratan DataKurang akurat untuk pemantauan stok real-time.Sangat akurat karena stok terpantau setiap saat.

Dalam metode perpetual, setiap kali terjadi penjualan, akuntan akan menjurnal dua hal: pendapatan penjualan dan pengurangan nilai persediaan. Hal ini memudahkan manajemen untuk mengetahui posisi stok tanpa harus melakukan perhitungan fisik setiap hari. Namun, bagi UMKM dengan item barang yang ribuan dan murah, metode periodik sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis.

Manajemen stok barang dagang di gudang
Pengelolaan inventaris yang baik adalah kunci keakuratan siklus akuntansi perusahaan dagang.

Proses Posting ke Buku Besar dan Buku Pembantu

Setelah tahap penjurnalan selesai, langkah selanjutnya adalah memindahkan (posting) data dari jurnal ke buku besar (General Ledger). Dalam perusahaan dagang, buku besar merangkum saldo dari akun-akun seperti Kas, Piutang Dagang, Persediaan, Utang Dagang, dan Penjualan. Proses ini biasanya dilakukan secara periodik, misalnya setiap akhir bulan.

Namun, karena perusahaan dagang biasanya memiliki banyak pelanggan dan pemasok, buku besar umum saja tidak cukup. Dibutuhkan buku besar pembantu (Subsidiary Ledger) untuk memberikan rincian lebih detail. Terdapat dua jenis buku pembantu yang umum digunakan:

  1. Buku Pembantu Piutang: Mencatat rincian utang masing-masing pelanggan kepada perusahaan secara individual.
  2. Buku Pembantu Utang: Mencatat rincian utang perusahaan kepada masing-masing pemasok atau vendor.
"Keakuratan buku pembantu sangat vital karena total saldo dalam seluruh buku pembantu harus sama dengan saldo akun kontrol di buku besar umum."

Penyusunan Neraca Saldo dan Jurnal Penyesuaian

Langkah tengah dalam contoh siklus akuntansi perusahaan dagang adalah menyusun neraca saldo (Trial Balance). Daftar ini berisi saldo akhir dari semua akun buku besar. Jika jumlah debit dan kredit tidak seimbang, berarti terjadi kesalahan dalam proses posting atau penjurnalan sebelumnya.

Setelah neraca saldo terbentuk, akuntan harus membuat jurnal penyesuaian. Tahap ini bertujuan untuk menyesuaikan saldo akun agar menunjukkan kondisi yang sebenarnya pada tanggal pelaporan. Hal-hal yang biasanya disesuaikan meliputi:

  • Penyusutan aset tetap (kendaraan, bangunan, peralatan kantor).
  • Beban yang masih harus dibayar (misalnya gaji karyawan bulan berjalan yang dibayar bulan depan).
  • Pendapatan yang diterima di muka.
  • Penyesuaian nilai persediaan barang dagang akhir (terutama untuk metode periodik).

Setelah penyesuaian, sering kali dibuat Neraca Lajur (Worksheet) sebagai alat bantu untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan. Neraca lajur ini merangkum neraca saldo, jurnal penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian, hingga kolom laba rugi dan neraca.

Menyusun Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Puncak dari seluruh contoh siklus akuntansi perusahaan dagang adalah penyusunan laporan keuangan. Laporan ini merupakan output utama yang akan dibaca oleh investor, kreditur, maupun manajemen internal untuk pengambilan keputusan strategis. Ada empat laporan utama yang harus dihasilkan:

1. Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Laporan ini menyajikan selisih antara total pendapatan dengan total beban, termasuk HPP. Dalam perusahaan dagang, format yang digunakan sering kali adalah multi-step yang memisahkan antara laba kotor, laba operasional, dan laba bersih.

2. Laporan Perubahan Modal

Menjelaskan perubahan pada ekuitas pemilik selama periode tertentu, yang dipengaruhi oleh laba bersih, rugi bersih, serta pengambilan pribadi (prive).

3. Neraca (Balance Sheet)

Menunjukkan posisi keuangan perusahaan (Aset, Liabilitas, dan Ekuitas) pada tanggal tertentu. Di sini, nilai persediaan barang dagang akan muncul sebagai aset lancar.

4. Laporan Arus Kas

Menggambarkan aliran masuk dan keluar kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

Contoh laporan keuangan akuntansi dagang
Laporan keuangan yang tersusun rapi memudahkan analisis kinerja bisnis secara periodik.

Tahap Akhir: Jurnal Penutup dan Neraca Saldo Setelah Penutupan

Siklus belum berakhir setelah laporan keuangan terbit. Akuntan harus melakukan jurnal penutup untuk menolkan akun-akun nominal (pendapatan, beban, ikhtisar laba rugi, dan prive). Tujuannya adalah agar akun-akun tersebut siap mencatat transaksi di periode akuntansi berikutnya tanpa membawa saldo dari periode lama.

Setelah penutupan, dibuatlah neraca saldo setelah penutupan. Daftar ini hanya berisi akun-akun riil (aset, utang, dan modal). Saldo akhir pada daftar ini akan menjadi saldo awal untuk siklus akuntansi di periode mendatang. Pada beberapa kasus, akuntan juga membuat jurnal pembalik (reversing entries) di awal periode baru untuk menyederhanakan pencatatan transaksi yang berulang.

Dengan mengikuti contoh siklus akuntansi perusahaan dagang yang sistematis di atas, perusahaan dapat meminimalkan risiko kesalahan data, mencegah kecurangan (fraud), dan memiliki basis data yang kuat untuk perencanaan pajak serta ekspansi bisnis. Konsistensi dalam menjalankan setiap tahapan adalah kunci utama dalam profesionalisme akuntansi.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow