Kemenlu Desak Semua Pihak di Yaman Tahan Diri Pasca Pengeboman Saudi
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyampaikan imbauan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik di Yaman untuk menahan diri. Seruan ini muncul setelah adanya pengeboman yang dilakukan oleh Arab Saudi di Pelabuhan Mukalla, Yaman, pada Rabu (31/12).
Kemenlu RI Apresiasi Upaya Stabilitas di Yaman
Pemerintah Indonesia melalui Kemenlu mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil berbagai pihak dalam menjaga stabilitas dan keamanan di Yaman. Hal ini dianggap krusial demi mencapai penyelesaian damai melalui dialog politik inklusif dan komprehensif.
"Indonesia menegaskan kembali seruannya kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan sepihak yang dapat berdampak pada kondisi keamanan," kata Kemenlu melalui akun resmi di X, @Kemlu_RI.
Kemenlu juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik secara damai melalui dialog politik yang inklusif dan komprehensif di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Upaya ini harus dilakukan dengan menghormati pemerintahan Yaman yang sah dan menjaga integritas teritorial negara tersebut.
Keprihatinan atas Ketegangan yang Meningkat
Sebelumnya, Kemenlu RI telah menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan yang berpotensi memperburuk kondisi keamanan dan menambah penderitaan rakyat Yaman.
Pergerakan Militer Sepihak STC
Organisasi politik Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) Yaman dilaporkan melakukan pergerakan militer sepihak dan mencapai kemajuan teritorial di kegubernuran timur Hadhramaut dan Al-Mahrah. Tindakan ini meningkatkan ketegangan dan mengancam keamanan di Yaman.
Penjelasan Arab Saudi Terkait Pengeboman
Juru Bicara Komando Pasukan Campuran Arab Saudi, Mayjen Turki al-Maliki, menjelaskan bahwa pengeboman dilakukan setelah adanya informasi intelijen mengenai pengiriman senjata melalui Pelabuhan Mukalla. Intelijen tersebut mengindikasikan masuknya 80 kendaraan berisi senjata api yang akan dikirim ke daerah konflik.
Al-Maliki mengklaim bahwa seluruh kendaraan tersebut berisi senjata api dan seluruh pekerja di pelabuhan telah dievakuasi sebelum kapal tiba. Kendaraan-kendaraan tersebut kemudian dikirim ke Pangkalan Al-Rayyan, basis militer Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman.
Tanggapan atas Pengiriman Senjata
Al-Maliki menyatakan bahwa pengiriman senjata tersebut melibatkan 10 warga negara UEA dan pihak-pihak yang dinilai mengeskalasi perang Arab Saudi-Yaman. Ia mengaku telah memberitahu pemerintah UEA bahwa pemasukan dan pengiriman senjata api ke Pangkalan Al-Rayyan tidak dapat diterima.
Namun, pemberitahuan tersebut tidak diindahkan. Pemerintah UEA hanya mengembalikan 80 mobil logistik ke Pelabuhan Mukalla, sementara senjata api tetap berada di Pangkalan Al-Rayyan.
"Sebelum fajar, kami melakukan operasi militer di Pelabuhan Mukalla untuk menghindari korban jiwa dan kerusakan properti setelah mematuhi aturan konflik," kata al-Maliki.
Serangan STC di Hadhramaut dan Al-Mahra
Dewan Transisi Selatan (STC) Yaman yang didukung UEA, dilaporkan melancarkan serangan untuk menguasai Hadhramaut setelah bentrok dengan faksi-faksi yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. STC juga menguasai provinsi al-Mahra di tenggara, yang berbatasan dengan Oman.
Kaitan dengan Konflik di Sudan
Serangan STC terjadi tiga minggu setelah Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, menyampaikan kekhawatiran tentang perang saudara di Sudan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Hadhramaut, wilayah terbesar dan terkaya di Yaman yang diambil alih oleh STC, memiliki hubungan erat dengan Arab Saudi. Beberapa analis menduga bahwa serangan STC dan pernyataan Mohammed bin Salman saling berkaitan.
Peran UEA dalam Konflik
UEA disebut merasa tidak senang karena Pangeran Mohammed telah mengangkat peran Pasukan Pendukung Cepat atau Rapid Support Forces (RSF) paramiliter dalam konflik Sudan.
Peran UEA di Sudan semakin menjadi sorotan karena diduga telah memasok senjata kepada RSF, yang menghadapi tuduhan genosida. Sementara itu, Arab Saudi dianggap sebagai pendukung Angkatan Bersenjata Sudan, saingan utama RSF.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow