Indonesia Setop Impor Beras & Jagung Mulai 2026, Surplus untuk Ekspor!
Pemerintah Indonesia mengambil langkah berani dengan menghentikan impor beras dan jagung mulai tahun 2026. Keputusan ini didasarkan pada proyeksi surplus produksi dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan nasional, bahkan memungkinkan ekspor. Langkah ini diharapkan dapat melindungi petani lokal dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Stok Beras Nasional Surplus, Siap Ekspor 71 Ton
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan bahwa cadangan beras di masyarakat mencapai 12,52 juta ton pada akhir tahun lalu. Jumlah ini termasuk cadangan beras pemerintah sebanyak 3,24 juta ton, yang setara dengan kebutuhan beras nasional selama lima bulan.
“Ketersediaan stok dan produksi secara nasional dipastikan telah kuat dan mampu memenuhi konsumsi masyarakat,” kata Ketut dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (1/1).
Proyeksi Produksi Beras 2026 Meningkat
Ketut memproyeksikan produksi beras tahun ini mencapai 34,7 juta ton, sehingga stok akhir tahun 2026 diperkirakan mencapai 16,18 juta ton. Dengan surplus ini, Indonesia berpotensi mengekspor setidaknya 71 ton beras pada tahun 2026.
Jagung Juga Stop Impor, Potensi Ekspor 52.900 Ton
Selain beras, stok jagung nasional juga menunjukkan tren positif. Stok akhir tahun 2025 mencapai 4,52 juta ton, setara dengan kebutuhan hampir tiga bulan.
Dengan proyeksi produksi mencapai 18 juta ton, stok akhir tahun ini diperkirakan mencapai 4,58 juta ton. Ketut menilai, kondisi ini membuka potensi ekspor jagung sekitar 52.900 ton pada tahun 2026.
“Impor jagung untuk pakan, benih, dan rumah tangga dipastikan tidak ada pada 2026,” ujarnya.
Gula Konsumsi Aman, Impor Tidak Diperlukan
Untuk gula konsumsi, stok di masyarakat pada akhir 2025 diperkirakan mencapai 1,43 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Juni 2026.
Produksi gula konsumsi tahun ini diramalkan mencapai 2,72 juta ton. Setelah memperhitungkan konsumsi 2026 sekitar 2,83 juta ton, stok gula konsumsi akhir tahun diperkirakan mencapai 1,32 juta ton.
Dengan demikian, Ketut memastikan impor gula konsumsi tidak diperlukan pada tahun 2026.
Arahan Presiden Perkuat Ketahanan Pangan
Kepastian penghentian impor pangan strategis pada 2026 sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan domestik.
Lindungi Petani dan Peternak Lokal
Kepala Bapanas, Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penghentian impor beras, jagung, dan gula bertujuan untuk melindungi petani dan peternak dalam negeri.
“Petani dan peternak kita tidak boleh rugi, mereka harus sejahtera. Hasil kerja keras mereka harus dapat disalurkan secara luas bagi kebutuhan masyarakat Indonesia," kata Amran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow