Pemulihan IKM Aceh dan Sumbar Pasca Bencana Jadi Prioritas Pemerintah
Bencana alam yang menerjang Aceh dan Sumatera Barat telah melumpuhkan ribuan industri kecil menengah (IKM). Pemerintah berupaya mempercepat pemulihan IKM guna mencegah gangguan pasokan pangan dan tekanan ekonomi nasional.
Verifikasi Langsung IKM Terdampak
Sekretaris Jenderal Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, berencana melakukan verifikasi langsung terhadap IKM terdampak di Aceh dan Sumatera Utara pada bulan ini. Langkah ini krusial agar pelaku IKM dapat kembali memulai produksi secara mandiri.
"Saat ini masyarakat di daerah terdampak Aceh dan Sumatera Utara butuh banyak produk hasil produksi industri makanan dan minuman. Pemulihan IKM dibutuhkan agar kebutuhan tersebut tidak bergantung dari luar daerah," kata Eko di kantornya, Rabu (31/12).
Dampak Bencana pada IKM
Eko memaparkan bahwa hampir 84% dari total IKM di Aceh terdampak, mulai dari gangguan rantai pasok akibat infrastruktur, tenaga kerja yang belum pulih, hingga penghentian produksi sementara. Di Sumatera Utara, jumlah IKM terdampak mencapai sekitar 10%, sementara di Sumatera Barat kurang dari 2%.
Tiga Program Pemulihan IKM
Eko menyampaikan bahwa setidaknya ada tiga program yang akan segera diluncurkan untuk memulihkan IKM di Aceh dan Sumatera Utara.
- Bantuan restrukturisasi alat produksi IKM terdampak.
- Bantuan kredit modal kerja kepada pelaku IKM.
- Dukungan proses produksi IKM melalui skema rumah produksi bersama.
Tujuan Program Pemulihan
Tujuan utama dari ketiga program tersebut adalah mengembangkan produk kebutuhan dasar hingga menjalin kemitraan untuk memperluas akses pasar. Bantuan pemerintah akan dilakukan secara bertahap sebelum akhirnya memulihkan kapasitas produksi tiap IKM terdampak.
Pemulihan Sektor Manufaktur
Setelah IKM, pemulihan sektor manufaktur akan diperluas ke industri besar. Langkah ini diambil untuk memperbaiki rantai pasok di seluruh sektor manufaktur, seperti tekstil, agro, dan logam dasar.
"Kami akan segera mengusulkan biaya program bantuan tersebut ke presiden agar bisa menggunakan APBN dalam situasi bencana," katanya.
Dampak Ekonomi Regional
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah perekonomian DI Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai Rp 469,43 triliun pada kuartal ketiga tahun ini. Angka ini setara dengan 7,75% perekonomian nasional pada Juli-September 2025 yang senilai Rp 6.060 triliun.
Sejumlah ekonom berpendapat bahwa kondisi ini berpotensi mengubah peta pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025. Tragedi yang menyebabkan 753 korban jiwa ini dapat menekan potensi ekonomi.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Direktur Eksekutif Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan bahwa sebagian besar aktivitas ekonomi di wilayah tersebut mengalami kendala. Kontribusi ketiga provinsi tersebut terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar 9%.
Diperkirakan, bencana di Sumatera dapat menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal akhir 2025. Target pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 dari CORE Indonesia juga mengalami perubahan setelah terjadinya bencana.
“Mestinya pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 itu berada pada kisaran 5,2%-5,4%. Tapi dengan kondisi tadi ini bisa jadi hanya 5,2% atau bahkan di bawah 5,2%,” ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow