IHSG Cetak Rekor, January Effect Awali 2026?
- Apa Itu January Effect?
- Faktor Pendorong January Effect
- Karakteristik Saham yang Dipengaruhi January Effect
- Faktor yang Mempengaruhi January Effect
- January Effect Sebagai Referensi Investasi
- Performa Saham 2025
- Rekor IHSG di Tahun 2025
- Pembukaan Perdagangan BEI 2026
- Makna Simbolis Kehadiran Pejabat Negara
Perdagangan saham tahun 2026 dibuka pada Jumat, 2 Januari. Di awal tahun, pasar modal sering kali diwarnai fenomena January Effect, yaitu kecenderungan harga saham naik di bulan Januari, sebuah anomali musiman yang diperhatikan pelaku pasar.
Apa Itu January Effect?
BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa January Effect adalah anomali musiman di pasar modal di mana harga saham cenderung naik pada bulan Januari. Fenomena ini umumnya lebih terasa pada saham berkapitalisasi kecil karena tingkat likuiditasnya relatif terbatas sehingga lebih responsif terhadap arus dana masuk.
Faktor Pendorong January Effect
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, terdapat beberapa faktor yang kerap dikaitkan dengan munculnya January Effect.
Aksi Tax-Loss Selling
Pertama, aksi *tax-loss selling* pada akhir tahun, ketika investor melepas saham yang merugi di bulan Desember untuk kemudian membelinya kembali pada Januari.
Masuknya Dana Segar
Kedua, masuknya dana segar di awal tahun, baik yang berasal dari bonus, tabungan baru, maupun alokasi investasi tambahan.
Penyeimbangan Ulang Portofolio
Ketiga, adanya aktivitas penyeimbangan ulang portofolio oleh manajer investasi setelah penutupan buku akhir tahun.
“Lalu efek psikologis awal tahun, ketika optimisme pasar biasanya lebih tinggi,” demikian tertulis BRI Danareksa dalam analisisnya, dikutip Rabu (31/12).
Karakteristik Saham yang Dipengaruhi January Effect
Secara historis, BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa January Effect lebih sering muncul pada saham berkapitalisasi kecil dan lapis kedua (*small cap* dan *second liner*), karena permintaannya relatif lebih mudah terdorong oleh peningkatan arus beli.
Fenomena ini juga sering terlihat pada saham-saham yang sempat tertekan menjelang akhir tahun, dan emiten dengan likuiditas cukup namun valuasinya masih tergolong menarik. Sebaliknya, saham berkapitalisasi besar cenderung bergerak lebih stabil dan tidak melonjak dari efek musiman tersebut.
Faktor yang Mempengaruhi January Effect
Meski begitu, January Effect tidak selalu terjadi setiap tahun. BRI Danareksa juga menyebutkan bahwa fenomena ini bukan jaminan pasar akan bergerak naik karena sangat bergantung pada kondisi global. Misalnya, arah suku bunga, dinamika geopolitik, dan sentimen risiko, serta arus dana asing dan kondisi makroekonomi di awal tahun. Dalam beberapa periode, tekanan eksternal justru membuat efek ini melemah atau bahkan tidak terlihat sama sekali.
January Effect Sebagai Referensi Investasi
BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa January Effect sebaiknya dijadikan sebagai referensi tambahan, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi. Investor umumnya mulai mencermati pergerakan saham sejak akhir Desember, yang fokusnya pada emiten yang memiliki likuiditas dan fundamental yang masih solid.
BRI Danareksa juga menyarankan agar disiplin dalam manajemen risiko tetap menjadi kunci, mengingat volatilitas pasar pada awal tahun berpotensi meningkat. BRI Danareksa menilai January Effect mencerminkan bagaimana perilaku investor dan arus dana musiman dapat memengaruhi pergerakan saham di awal tahun. Meski tidak selalu muncul, fenomena ini tetap relevan untuk dipantau sebagai bagian dari strategi membaca sentimen pasar.
“Kuncinya bukan sekadar ikut-ikutan, tapi memahami konteks dan memilih saham secara selektif,” demikian tertulis dalam analisis BRI Danareksa.
Performa Saham 2025
Berdasarkan Stockbit Sekuritas, per 30 Desember 2025, emiten dengan kenaikan harga saham terbesar sejak IPO didominasi oleh PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang melonjak hingga 3.780%. Lalu diikuti PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) dengan kenaikan 950,6%, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sebesar 778,9%, PT Raharja Energi Cepu Tbk (CDIA) sebesar 765,5%, serta PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) yang menguat 187,2%.
Di sisi lain, sejumlah saham justru mencatatkan penurunan terdalam sejak melantai di bursa. PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) anjlok 48,1%, disusul PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) sebesar 40,7%, PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) turun 38,6%, PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) sebesar 32,6%, dan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) sebesar 24,9%.
Rekor IHSG di Tahun 2025
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencetak rekor sepanjang masa dengan *all time high* (ATH) 24 kali pada tahun 2025. Pada Agustus 2025, indeks bahkan mencatatkan rekor *All Time High* di level 8.710,69.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 29 Desember 2025, jumlah *Single Investor Identification* (SID) telah mencapai 20,32 juta, dengan investor saham menembus 8,59 juta. Kapitalisasi pasar menyentuh sebesar Rp 16.000 triliun, setara sekitar 70% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dari sisi likuiditas, rata-rata nilai transaksi harian mencetak rekor baru di level Rp 18,06 triliun. Sementara itu, IHSG ditutup menguat tipis 0,03% ke level 8.646 pada perdagangan Selasa (30/12).
Pembukaan Perdagangan BEI 2026
Seiring dengan rekor IHSG di 2025, apakah Presiden RI Prabowo Subianto akan membuka perdagangan bursa di 2026?
Menurut susunan acara pembukaan perdagangan BEI 2026, Prabowo akan membuka perdagangan BEI di 2026 sekaligus memberikan arahan pidato pukul 09.00 WIB pada Jumat (2/1) di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, berkaca pada pembukaan perdagangan BEI 2025 lalu, Prabowo Subianto tidak hadir dan diwakili oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Makna Simbolis Kehadiran Pejabat Negara
Analis pasar modal, Hans Kwee, menilai kehadiran pejabat negara dalam seremoni pembukaan perdagangan memiliki makna simbolik. Ia mengatakan bahwa secara langsung, kehadiran Presiden atau pejabat tinggi negara bukan faktor utama yang menentukan pergerakan IHSG.
“Meskipun memang arah pasar tetap lebih ditentukan oleh fundamental ekonomi, valuasi saham, serta sentimen global dan domestik,” kata Hans dalam keterangannya, Selasa (30/12).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow