Saham Grup Bakrie Melesat di 2025, Analis Ungkap Prospek dan Faktor Pendorong
Pergerakan saham-saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie menjadi sorotan investor pasar modal sepanjang 2025. Kinerja emiten-emiten di bawah kendali keluarga Bakrie mencatatkan hasil yang memuaskan, didorong oleh aksi korporasi dan sentimen positif pasar.
Kinerja Saham Grup Bakrie Sepanjang 2025
Kinerja saham-saham Grup Bakrie sepanjang 2025 ditopang oleh sejumlah aksi korporasi, mulai dari akuisisi perusahaan, diversifikasi portofolio bisnis, perolehan kontrak dan tender strategis, hingga pengamanan fasilitas kredit bernilai jumbo untuk mendukung ekspansi usaha.
Saat ini, gurita bisnis Grup Bakrie mencakup sedikitnya 12 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan bidang usaha yang beragam. Di sektor tambang, grup ini menaungi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Pada sektor energi terdapat PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Sementara di sektor industri dan otomotif, Grup Bakrie memiliki PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).
BRMS Jadi Primadona
BRMS menjadi saham Bakrie yang paling mencuri perhatian di kalangan investor. Perusahaan ini tampil setelah masuk ke indeks internasional MSCI dan membuka peluang arus dana pasif ke saham perseroan. BRMS juga mengumumkan tambang emasnya di Palu telah menghasilkan produksi emas.
Ekspansi BUMI dan ENRG
Dua emiten Bakrie lainnya, yaitu BUMI dan ENRG, juga mempercepat ekspansi. BUMI menerbitkan obligasi jumbo untuk menuntaskan akuisisi tambang emas di Australia, melakukan diversifikasi usaha ke tambang emas. Adapun ENRG menyiapkan penerbitan obligasi dan anggaran besar untuk memperluas portofolio migas.
Prospek Saham Grup Bakrie di 2026
Menatap 2026, sejumlah analis menilai prospek saham-saham Grup Bakrie masih cukup menarik, meski tetap bergantung pada dinamika harga komoditas global.
Faktor Fundamental dan "Salim Effect"
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai kinerja emiten Grup Bakrie pada 2026 masih positif, namun investor perlu bersikap selektif. Menurutnya, perbaikan fundamental perusahaan didorong oleh proses restrukturisasi utang dan masuknya mitra strategis sepanjang 2025.
Selain itu, Wafi berpandangan, bangkitnya saham-saham Bakrie setelah terpuruk beberapa tahun ke belakang terjadi karena masuknya Salim, yang disebut sebagai “Salim Effect” ke beberapa perusahaan Bakrie sehingga menjadi usaha kongsi. Misalnya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
"Outlook 2026 Grup Bakrie tetap oke tapi selektif. Fundamental membaik drastis karena "Salim Effect" dan bersih-bersih utang di 2025," kata Wafi kepada Katadata.co.id, Selasa (30/12).
Saham Pilihan Wafi
Wafi menyebut BRMS sebagai saham yang paling menarik baginya karena telah memasuki fase produksi emas dengan kapasitas penuh, di saat yang sama harga emas global masih berada dalam tren bullish. Adapun BUMI, kata dia, kini lebih berperan sebagai cash cow dengan fokus pada efisiensi dan pembagian dividen, meski ruang kenaikan harga sahamnya relatif terbatas akibat tekanan harga batu bara.
Sementara DEWA menarik sebagai turnaround play. Menurutnya, masuknya modal dan manajemen baru berpotensi mendorong peningkatan volume operasional. Sedangkan ENRG dan BNBR masih cenderung spekulatif.
“Katalis besarnya penurunan suku bunga yang bikin beban utang turun dan bisa dorong laba bersih,” katanya.
Pandangan Mirae Asset Sekuritas
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia menilai sejumlah emiten Grup Bakrie mulai mendapatkan perhatian investor global setelah masuk ke dalam indeks internasional seperti MSCI.
“BUMI dan BRMS sudah masuk indeks global, sehingga berpotensi meningkatkan arus dana dari manajer investasi global,” kata Nafan.
Faktor Komoditas dan Risiko Utang
Selain faktor indeks, Nafan menilai prospek komoditas seperti emas, batu bara, dan minyak juga masih berpeluang membaik seiring potensi peningkatan permintaan global. Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas harga komoditas tetap menjadi risiko utama, terutama bagi batu bara yang kerap mengalami fluktuasi permintaan tanpa diikuti kenaikan harga yang signifikan.
Di sisi lain, struktur utang masih menjadi tantangan bagi sebagian emiten Grup Bakrie. Karena itu, Nafan menekankan pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik agar risiko keuangan dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Sebagian saham Grup Bakrie bukan termasuk kategori blue chip. Kapitalisasinya memang besar, tetapi volatilitasnya tetap tinggi. Investor perlu mencermati risiko ini,” ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow