Pupuk Subsidi Lancar, Petani Muktijaya Tersenyum: Harga Stabil, Hasil Optimal
Di bawah terik matahari Desa Muktijaya, Bekasi, Nenih, seorang petani berusia hampir 60 tahun, tampakSummery: sibuk merawat tanaman cabai, kacang tanah, dan lengkuasnya. Setelah dua tahun kembali bertani, ia merasakan dampak positif dari ketersediaan pupuk bersubsidi yang kini lebih mudah diakses.
Keluhan Klasik: Pupuk Langka dan Mahal
Nenih bercerita tentang pengalaman bertaninya yang seringkali terganggu oleh masalah klasik: kelangkaan pupuk. Beberapa tahun lalu, harga pupuk sempat melonjak hingga Rp 300 ribu per kuintal.
"Kalau nggak pakai pupuk, ya begini. Kurus, nggak gede," kata Nenih, saat ditemui belum lama ini.
Meski pupuk kandang bisa menjadi alternatif, Nenih mengakui hasilnya tidak seoptimal pupuk kimia jenis NPK. Tanaman tumbuh lebih lambat dan hasil panen cenderung lebih kecil.
"Kalau cuma pakai pupuk kandang, tanamannya tetap hidup, tapi hasilnya nggak sebagus pupuk kimia. Nggak ngefek, buahnya kecil-kecil. Beda kalau pakai NPK, tanamannya lebih cepat besar dan hasilnya kelihatan," kata Nenih.
Ancaman Ketahanan Pangan Nasional
Ketidakpastian ketersediaan pupuk berdampak pada produksi dan pasokan komoditas di pasar. Ketika petani menunda tanam, produksi turun, stok menipis, dan harga pangan bisa ikut terpukul.
Kondisi ini mencerminkan persoalan yang lebih besar, yakni ketika sarana produksi fundamental seperti pupuk tidak tersedia, ketahanan pangan nasional pun bisa terancam.
Transformasi Tata Kelola Pupuk Bersubsidi
Pemerintah berupaya mengatasi masalah ini dengan mengintegrasikan penggunaan identitas seperti KTP dalam penebusan pupuk bersubsidi dan mengimplementasikan sistem digital seperti iPubers.
iPubers: Memantau Distribusi Pupuk Secara Real Time
iPubers adalah platform yang memantau distribusi pupuk bersubsidi secara *real time*, mempermudah verifikasi, dan mengefisienkan alur distribusi dari pabrik sampai ke tangan petani.
Sistem ini juga bagian dari penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi yang dirancang untuk memperbaiki akuntabilitas layanan pupuk.
Menurut Direktur Manajemen Risiko PT Pupuk Indonesia, Ninis Kesuma Adriani, digitalisasi memungkinkan perubahan cepat dan akurat dalam tata kelola pupuk, sehingga petani semakin mudah mendapatkan akses.
Dalam implementasinya, iPubers terbukti mampu memastikan penyaluran pupuk tepat sasaran, meningkatkan transparansi, serta mempercepat proses verifikasi dan penebusan pupuk.
"Pemerintah dan Pupuk Indonesia juga dapat memantau data penyaluran kapan saja tanpa harus menunggu laporan manual. Semua informasi tercatat jelas, sehingga praktik penyelewengan atau peredaran pupuk bersubsidi di luar sasaran juga dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan iPubers, distribusi pupuk subsidi menjadi lebih transparan, akuntabel, dan mudah diawasi oleh seluruh pihak terkait," jelas Ninis dalam keterangan resmi, beberapa waktu lalu.
Komitmen Pupuk Indonesia: Stok Pupuk Aman
PT Pupuk Indonesia menyiapkan lebih dari 1,2 juta ton pupuk bersubsidi untuk musim tanam Oktober-Maret 2025/2026. Jumlah tersebut mencapai 259% dari minimum stok yang ditetapkan pemerintah.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, pernah menegaskan bahwa ketersediaan pupuk adalah instrumen penting dalam mendorong produktivitas pertanian demi mewujudkan swasembada pangan nasional.
"Pupuk merupakan salah satu instrumen penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian, untuk mewujudkan swasembada pangan nasional. Pupuk Indonesia hadir untuk memenuhi kebutuhan petani dengan menyiapkan stok sesuai regulasi, dan menjalankan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi sesuai aturan baru yang banyak memberikan kemudahan bagi petani dalam penebusan," ungkapnya belum lama ini.
Peningkatan Penyaluran Pupuk Bersubsidi
Sepanjang kuartal I 2025, perusahaan mencatat penyaluran pupuk bersubsidi sebanyak 1,7 juta ton, meningkat lebih dari 30% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Harapan Petani Muktijaya
Bagi Nenih, akses pupuk yang teratur membuatnya bisa merencanakan masa tanam dengan lebih pasti. Ketersediaan pupuk memberikan harapan tersendiri di tengah kompleksitas cuaca, hama, dan kondisi tanah.
"Sekarang mah gampang. Udah nggak langka," katanya sambil menatap barisan tanamannya.
Ia berharap harga pupuk bisa terus stabil bahkan lebih murah lagi, sehingga beban biaya produksi tidak memberatkan petani kecil seperti dirinya.
"Harapannya buat tepat sasaran, buat sekarang sih pupuk subsidi alhamdulillah udah diturnin juga harganya udah semakin banyak di pasar udah tepat sasarannya petani-petani pokoknya alhamdulillah. Harapannya kedepannya bisa bertahan kalau bisa lebih turun lagi harganya lebih bisa banyak lagi petaninya yang bisa diuntungin lagi dari pupuknya," pungkas Nenih.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow