Emiten Ramai-Ramai Ekspansi EBT, Bagaimana Prospek Sahamnya?

Emiten Ramai-Ramai Ekspansi EBT, Bagaimana Prospek Sahamnya?

Smallest Font
Largest Font

Sejumlah emiten di Indonesia berlomba-lomba memperkuat bisnisnya di sektor energi baru terbarukan (EBT), memanfaatkan momentum pertumbuhan industri energi hijau. Ekspansi ini dipengaruhi oleh rencana investasi Danantara Investment Management (DIM) dalam proyek listrik berbasis EBT, serta strategi menjaga daya saing di tengah tekanan dekarbonisasi global.

Perusahaan Agresif Garap Proyek EBT

Beberapa emiten besar telah lebih dulu agresif dalam menggarap proyek EBT, di antaranya PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga memperkuat operasional PLTS di kawasan industri melalui anak usahanya.

Kinerja Saham Emiten EBT

Berikut kinerja saham sejumlah emiten EBT per penutupan perdagangan BEI 2025:

TBS Energi Utama (TOBA)

TOBA memasuki babak baru transformasi bisnis dari perusahaan batu bara menjadi pemain energi hijau regional. Transformasi ini menjadi pijakan penting dalam peta jalan dekarbonisasi yang diluncurkan sejak 2021, dengan target keluar sepenuhnya dari bisnis batu bara sebelum 2030.

“Perubahan identitas bukan sekadar pergantian nama, melainkan simbol perjalanan panjang perusahaan dalam membangun pondasi bisnis hijau yang memberikan nilai ekonomi dan sosial,” kata Presiden Direktur TBS Energi Utama Dicky Yordan.

Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina menambahkan, cadangan batu bara perusahaan diproyeksikan habis dalam dua tahun ke depan, sehingga transisi ke bisnis energi hijau terus dipercepat. “Kami sudah menyiapkan fase transisi, termasuk rencana penutupan tambang yang sesuai regulasi. Tahun depan fokus kami mendorong tiga pilar bisnis baru tadi,” kata Juli.

TOBA mengalokasikan belanja modal hingga US$ 600 juta atau sekitar Rp 10 triliun dalam lima tahun, sejalan dengan roadmap TBS2030. Di sektor *waste management*, TOBA memperkuat bisnis dengan mengakuisisi AMES dan ARAH Environmental Indonesia, serta mengembangkan ekspansi regional melalui akuisisi Sembcorp Environment di Singapura yang bertransformasi menjadi CORA Environment.

Saham TOBA berada di level Rp 740 atau turun 2,63% pada penutupan perdagangan saham 2025, Selasa (31/12), dengan kapitalisasi pasar Rp 6,11 triliun. Secara *year to date* (ytd) saham TOBA naik 85,93%, namun turun 11,38% dalam sebulan terakhir.

Alamatri Resources Indonesia (ADRO)

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (sebelumnya bernama PT Adaro Energy Indonesia Tbk) kini berfokus pada bisnis mineral dan energi terbarukan setelah memisahkan bisnis batu baranya di PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Perusahaan menjalankan bisnis energi terbarukan melalui anak usahanya, PT Alamtri Renewables Indonesia, dengan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kalimantan Tengah dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kalimantan Utara.

Saham ADRO berada di level Rp 1.810 atau turun 6,94% pada penutupan perdagangan saham 2025, Selasa (31/12), dengan kapitalisasi pasar Rp 53,20 triliun. Secara *year to date* (ytd) saham ADRO merosot 25,51% dan stagnan dalam sebulan terakhir.

Arkora Hydro (ARKO)

Harga saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) naik 546,74% sejak awal tahun atau *year to date* (ytd). Pada 2 Januari, harga saham ARKO Rp 915 per lembar, dan kini menjadi Rp 5.950 pada penutupan perdagangan saham 2025, Selasa (31/12), dengan kapitalisasi pasar Rp 17,42 triliun.

ARKO tengah membangun dua PLTA baru, yaitu Kukusan II di Tanggamus, Lampung, yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2025, dan proyek Tomoni di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang diproyeksikan beroperasi pada 2026. ARKO juga telah menempatkan Proyek Pongbembe di Tana Toraja dalam daftar *pipeline*.

Barito Renewables Energy (BREN)

Emiten energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Prajogo Pangestu berencana meningkatkan portofolio bisnisnya di bidang pengembangan pembangkit panas bumi (geothermal) mencapai 910,3 megawatt (MW) dan pembangkit listrik tenaga angin (wind farm) sebesar 78,75 MW.

“Tergantung sektor-sektor lain di luar geothermal dan *wind farm* memberikan tingkat ekonomi *return* menarik atau tidak. Tapi tetap fokus kami mengembangkan portofolio itu [*geothermal* dan *wind farm*],” kata Direktur Utama BREN Tan Hendra Soetjipto, Selasa (11/11).

BREN membidik total kapasitas pembangkit listrik mencapai 2.300 MW pada 2032, dengan mengembangkan empat proyek strategis yang sedang dieksekusi, termasuk Proyek Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7.

Archi Indonesia (ARCI)

Emiten perusahaan pertambangan mineral emas dan perak, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) kini masuk ke bisnis pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal. Archi Indonesia membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat) bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG).

Corporate Secretary Archi Indonesia, Hidayat Dwiputro Sulaksono, menjelaskan pembentukan perusahaan patungan itu bertujuan untuk kerja sama dalam mengembangkan fasilitas panas bumi. TTG telah memperoleh Izin Panas Bumi (IPB) pada 13 Juni 2025, dengan lokasi proyek di Bitung, Sulawesi Utara, dan menargetkan kapasitas sebesar 40 MW.

“Di mana kegiatan usaha atas perusahaan usaha patungan tersebut memiliki prospek untuk dapat melakukan produksi dan penjualan tenaga listrik dengan fasilitas panas bumi,” ucap Hidayat.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA)

Emiten grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) hingga memperkuat rantai pasok nasional berbasis teknologi rendah karbon. Melalui anak usahanya, PT DSSR Daya Mas Sakti, DSSA menggandeng PT FirstGen Geothermal Indonesia mempercepat pengembangan portofolio sumber daya panas bumi dengan potensi kapasitas awal mencapai 440 MW.

“Fokus perusahaan saat ini tidak hanya menjaga kestabilan bisnis,” kata Presiden Direktur Dian Swastatika Sentosa, L. Krisnan Cahya.

DSSA juga terus meningkatkan kontribusi energi rendah karbon dan mendukung target transisi energi nasional. Perseroan juga memperluas pengembangan industri surya melalui perusahaan patungan dengan Trina Solar Energy Development Pte. Ltd. dan PT PLN Indonesia Power Renewables, membangun pabrik sel dan panel surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah.

Chandra Daya Investasi (CDIA)

Semangat PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menggarap proyek energi terbarukan dikebut melalui anak usahanya, PT Krakatau Chandra Energi (KCE). KCE mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru berkapasitas 4,7 megawatt-peak (MWp).

“Pengoperasian PLTS oleh KCE ini menegaskan komitmen CDI Group untuk menghadirkan infrastruktur energi yang lebih efisien, bersih dan berkelanjutan bagi sektor industri nasional,” ujar Presiden Direktur CDI Group Fransiskus Ruly Aryawan, Senin (24/11).

Energi yang dihasilkan PLTS ini akan langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kawasan Industri Krakatau, Cilegon, Banten. Dengan kapasitas 4,7 MWp, PLTS ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon hingga 5.086,74 ton CO?eq per tahun.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow